Kontak Person

Phone: 08122624412

BANK
Acc. Bank Mandiri Surakarta No.138-00-0689319-7 a.n. Supawi Pawenang;
Acc. BPD Jateng Cab. Surakarta No.2-002-11942-5 a.n. Supawi Pawenang;

Minggu, 03 Januari 2010

"TENTANG DIRI KITA: Pandangan Para filosof"

Oleh: Supawi Pawenang; Pondok Pangelmon Pawenang.

"The heart has its reason which the reason does not understand". Begitulah komentar Pascal yang menegaskan bahwa hati mempunyai akal-akal yang tidak difahami akal. Hati (coeur/heart) lebih unggul dibanding rasio (raison). Hati menghasilkan pengetahuan dan cinta yang mampu mengenali kebenaran tertinggi (Tuhan), dan rasio menghasilkan pengetahuan yang dingin dalam IPA dan Matematika. Komentar Pascal ini timbul sebagai kritik atas Descartes yang menyarankan filsafat agar meniru matematika dalam berlogika, padahal menurut Pascal matematika bukanlah metode filsafat.

Pendapat Descartes ini ada kesamaan dengan Stoisisme yang berpendapat bahwa “jagad raya dikuasai oleh logos (rasio), maka kejadian berlangsung menurut ketetapan). Ini sejalan dengan pikiran Pythagoras yang menurutnya semua yang ada di semesta ini dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan. Karena, manusia punya rasio yang sanggup mengenal orde universal jagad raya. Manusia bisa mencapai bahagia jika bertindak berdasar rasio”. Hanya saja pendapat Stoisisme ini diberi syarat oleh Augustinus yang mengatakan bahwa rasio insani bisa menemukan kebenaran yang tak terubahkan kalau bisa mencapai rasio ilahi. Rasio Ilahi ini tinggal di batin manusia dan menerangi roh manusiawi. Pandangan Agusinus ini disebut dengan Iluminasi.

Iluminasi itu sendiri menurut Ibnu Sina merupakan salah satu cara untuk mengenal Tuhan. Begitu pula pendapat Enneadeis yang bercorak Neoplatonis mempertegas bahwa untuk mengetahui kesejatian diri dapat dilakukan dengan konsep dari bawah ke atas (bottom up) melalui tiga cara, yaitu: pensucian (melepaskan diri dari pengaruh materi), penerangan atau iluminasi (pengetahuan idea akal budi), dan ekstasis (penyatuan dengan Tuhan melalui segala pengetahuan).

Pendapat Stoisisme dan Descartes ini ada pertalian kesamaan dengan pendapat Aristoteles yang termaktub dalam Teori Bentuk Materi yang menyatakan bahwa setiap jasmani terdiri dari bentuk (morphe, yaitu prinsip yang menentukan) dan materi (yang bersifat terbuka dan tidak menentukan). Bentuk dan materi yang tergabung ini dapat ditangkap dengan rasio. Teori ini terkenal juga dengan sebutan Hylemorphisme.
Manusia terdiri dari substansi (bentuk, jiwa) dan materi. Kedua unsur ini menyatu pada manusia hidup. Jika manusia mati, baik materi ataupun jiwa akan hancur. Teori ini sendiri ada dasarnya adalah mengkritik Plato tentang ide-ide. Menurutnya, manusia adalah yang konkret yang terlihat. Tidak ada ide yang melekat tentang manusia. Arah pendapat ini adalah ilmu pengetahuan yang bersifat empirik berdasar pada ilmu pengetahuan alam yang didukung oleh bukti dan data konkret, bukan data bersifat metafisis.

Baik Aristoteles maupun gurunya, yaiu Plato, sama-sama tergolong berpaham dualisme. Hanya saja dualisme Plato dituangkan dalam pendapatnya bahwa manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Sebelum terkurung dalam tubuh, jiwa telah berada dan memuat ide-ide. Ide-ide akan muncul ketika pengaruh jasmani terlepaskan. Maka, untuk memandang dunia ideal harus melepaskan diri dari dunia jasmani. Menurut Plato, kebanyakan manusia hanya terbelenggu oleh indera. (Ibarat orang tahanan di dalam gua yang sebelumnya pernah melihat apa-apa. Ketika ada bayangan masuk dalam gua, bayangan yang dilihatnya ini dianggap sebagai realitas. Ketika ia bisa keluar dan melihat fenomena luar, maka berangsur-angsur pemahamannya meyakini bahwa ini baru realitas, yang dilihat di gua itu bukan realitas).

Plato mengingatkan bahwa realitas terbagi atas dua dunia, yaitu dunia yang terbuka bagi rasio dan dunia yang hanya terbuka bagi indera. Dunia yang terbuka bagi rasio bersifat ide-ide. Ide ini merupakan obyek bagi rasio. Satu ide terdapat dalam beragam jenis materi yang sebutannya sama. Dunia yang terbuka bagi indera bersifat materi dan jasmaniah. Plato mengkritik orang yang terlalu percaya indera, karena penginderaan berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan orang senantiasa mengalami peningkatan. Yang semula bayang-bayang dianggap realitas, suatu saat setelah mendapat pencerahan akan mengetahui bahwa bayang-bayang itu ternyata bukan realitas. Orang yang tercerahkan akan mengajak orang lain untuk memahami realitas.

Pandangan alam idea Plato ini bercorak metafisis. Panangan ini ditolak oleh Aristoteles namun mempunyai kesamaan dengan Parmenides. Hanya saja antara Plato dan Parmenides ada perbedaan. Parmenides lebih bercorak monisme dengan berpendapat bahwa yang ada sejauh ada (being as being, being as such), yang ada ada yang tidak ada tidak ada. Di semesta ini yang ada adalah ada. segala-galanya adalah satu yang tidak dapat dibagi-bagi. Pendapat Parmenides ini mempunyai kesamaan dengan pendapat Ibn Rush yang bercorak monopsikisme (ajaran mengenai satu jiwa): jiwa perorangan yang bersifat baqa itu tidak ada, kebebasan dan pertanggung jawaban pribadi juga tidak benar. Kedua pendapat ini hasil dari mengkritik Aristoteles yang mengklasifikasikan akal pasif dan akal aktif. Menurut Rush akal itu tunggal.
Menurut Rush, dunia berada dari kekal. Hanya ada satu jiwa bagi seluruh manusia (monopsikisme). Allah penyebab segala hal (qadim), Allah tidak menyelenggarakan dunia fana.

Pendapat Parmenides ini sendiri berbeda dengan Herakleitos, dan juga dikritik oleh Demokritos. Herakleitos berpendapat bahwa asas pertama adalah api. Baginya api adalah simbol dari perubahan (contoh: kayu menjadi debu). Di Bumi ini semua dalam proses menjadi (pantha rhei: semua berproses mengalir). Sedang menurut Demokritos sesuatu terdiri dari atom-atom yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak dapat berubah menjadi yang lain. Atom-atom senantiasa bergerak membentuk realitas yang nampak indera.

Pendapat-pendapat di atas, terlepas dari kesetujuan ataupun ketidaksetujuan, menunjukkan bahwa ada wacana tentang phisik ataupun metafisik yang melingkupi kesejatian diri manusia. Adanya perbedaan pandangan ini mempertegas suatu kondisi bahwa hal itu layak untuk dibuktikan kebenarannya. Terutama kebenaran secara metafisik atas kedirian manusia. Hal lain yang perlu dibuktikan adalah tentang kemungkinan manusia mencapai kebahagiaan ataupun mengetahui tentang peran Tuhan dalam kehidupan. Karena, berbagai pandangan filosof terdahulu, seperti mazhab skeptisisme berpendapat bahwa manusia tidak akan mampu mencapai bahagia, dan Epikuiranisme berpendapat bahwa Dewa-dewa tidak mempengaruhi dunia. Manusia bisa mencapai bahagia jika tidak takut akan dewa-dewa, dan bisa menggunakan kehendak bebas dengan mencapai kesenangan sebanyak mungkin, dan tetap membatasi kesenangan agar ada keseimbangan dengan batin.

Pendapat Epikurianisme ini bertolak belakang dengan pendapat Thomas Aquinas yang mengatakan bahwa Rasio tidak mampu mengenal Allah, maka tidak bisa ditinjau secara ontologis Menurutnya ada 5 jalan untuk membuktikan peran Tuhan, yaitu adanya gerak dan perubah dalam jasmani, setiap gerak punya penyebab, setiap sebab punya sebab utama, sebab utama tidak digerakkan, sebab utama ini adalah Allah. Penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan berdasar pada konsep partisipasi. Tuhan berkehendak dari ketiadaan (ex nihilo), yang tidak diadakan dari bahan dasar dan tidak terbatas pada satu saat saja. Pendapat Thomas Aquinas ini tentu akan terbantahkan oleh pernyataan Ibn Rush yang berpendapat bahwa jika Tuhan itu Qadim, maka ketiadaan itu tidak ada. Jika ada penciptaan yang berasal dari ketiadaan, maka Tuhan itu tidak Qadim.

Pendapat Ibn Rush seakan mendapat penguatan ketika Spinosa berpendapat bahwa hanya ada satu substansi, yaitu Tuhan. Seluruh yang ada di semesta ini adalah substansi Tuhan. Pendapat Spinosa itu dijuluki sebagai Panteisme: Tuhan menjelma dalam semua bentuk. Namun mendapat pelemahan ketika dibandingkan dengan pendapat Leibniz yang mengatakan bahwa banyak substansi, jumlahnya tak terhingga. Substansi ini disebut sebagai Monade. Monade tidak bersifat jasmaniah dan tidak dapat dibagi-bagi. Materi terdiri dari banyak monade. Monade bersifat tertutup untuk monade itu sendiri.
Setiap monade mencerminkan monade yang lain sehingga muncul realitas seluruhnya. Monade bersifat aktif, yang aktivitasnya mengenal dan menghendaki. Hanya monade jiwa yang mampu mencapai kesadaran (cogito). Jiwa hanya satu monade namun tubuh banyak monade. Dua jenis monade ini diharmonisasi oleh Tuhan (harmonie pretablie) sehingga memunculkan aksi-reaksi.

Barkeley tidak setuju dengan pendapat Leibniz. Menurutnya, yang tertuang dalam teori immaterialisme, Tidak ada substansi materiil. Yang ada hanya ciri yang diamati dan pengalaman ruhani saja. Istilahnya: Esse est Percipi. Sesuatu adalah yang dipersepsi. Pendapat Barkeley ini dilanjutkan oleh Hume yang bercorak skeptis dengan mengatakan "karena semua hanya persepsi, maka keilmuan tidak bisa dicapai hingga dasar". Pendapat Hume ini didasari pengalaman (emperia) selama ini, bahwa basis dasar keilmuan adalah pengalaman, yang instrumennya hanya ditekankan pada penangkapan indera. Dalam konsep ilmu pengetahuan berbasis emperia mengakui pengalaman lahiriah maupun batiniah, hanya instrumennya ditekankan pada indera.

Pengakuan Hume tentang perlunya pengalaman batiniah dipertimabangkan dalam keilmuan, menunjukkan adanya kesamaan pandangan dualisme Plato, juga hylemorphisme Aristoteles yang diperdalam oleh Thomas Aquinas. Plato mengatakan manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Aristoteles mengatakan jasmani terdiri dari materi dan bentuk. Menurut Aquinas, itu bukan benda tetapi prinsip metafisis yang bersifat individuasi. Thomas menambahkan bahwa Hylemorph adalah esensi (hakikat) yang menunjuk apanya sesuatu (what is), dan eksistensi (adanya) yang menunjukkan adanya sesuatu (that it is). Kedua hal ini berlaku bagi makhluk yang bersifat majemuk, seperti malaikat ataupun manusia.

Pendapat Thomas Aquinas tentang manusia dapat disimpulkan sebagai berikut: manusia adalah suatu substansi. Jiwa bukan substansi yang lengkap. Jiwa adalah yang menjiwai materi, tetapi bisa lebih luas dari badan, karena berkehendak dan berfikir. Berkehendak dan berfikir merupakan aktivitas rohani, maka jiwa adalah rohani, yang setelah mati jiwa tetap hidup dan jiwa bersifat baqa. Pandangan Thomas Aquinas ini banyak kesamaannya dengan konsep manusia dalam Islam, yang mengakui bahwa Manusia mempunyai sisi rohaniah. Rohani atau jiwa ini akan tetap langgeng di alam setela kematian untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama di dunia.

Meskipun begitu pentingnya sisi rohani bagi manusia, namun pengkajian tentang rohani belum mendapat perhatian yang memadai. Terutama tentang apa sejatinya rohani? Bagaimana struktur rohani bekerja? Bagaimana cara memahami rohani? Dan sebagainya.

Tentang jawaban atas pertanyan-pertanyaan ini, nantikan tulisan berikutnya dengan judul: "Tentang Diri Kita: Kesejatian alam jiwa."

Jumat, 25 Desember 2009

Total Quality Management

Mutu merupakan faktor utama organisasi untuk dimensi memenangkan persaingan.
Mutu merupakan elemen kunci bagi penerapan strategi (di Jepang, baik industri otomotof, elektronik, mesin, dan sebagainya menerapkan mutu pada posisi utama. Begitu pula perusahaan-perusahaan USA, Kanada, dan negara maju lainnya).
Mutu merupakan cara utama untuk mengeliminasi setiap bentuk pemborosan.
Total Quality Management adalah..... selanjutnya

Jumat, 02 Oktober 2009

Makna Rahasia Gempa SUMBAR

Kami, Pondok Pangelmon, turut berduka atas terjadinya gempa Sumbar, juga gempa Jabar, yang mengakhiri bulan September (30 September) dan mengawali (2 September 2009).
Bulan September merupakan bulan yang memuat banyak makna.
1. Penyucian jiwa-jiwa muslim ada di bulan itu, karena bulan Ramadhan juga bersamaan dengan bulan itu.
2. Penyucian kembali juga di bulan itu, karena hampir seluruh komponen bangsa bersalam-salaman saling memohon maaf lahir batin, semua mengakui kesalahan dengan penuh keikhlasan, nyaris tanpa paksaan.
3. Tentu saja, malam lailatul Qadar juga ada di bulan itu.
4. Namun demikian, di bulan itu juga, dua bencana yang mengerikan, meluluhlantakkan bangunan, mental, jiwa, raga, ada di bulan itu, yang berupa gempa dahsyat 7,6 SR menghantam Jabar, dilanjutkan dengan Sumbar. masyaAllah.....inna lillahi wa inna illaihi roji'un..

Atas dua gempa itu, saya terus terang saja tercengang...tak mengerti mengapa itu terjadi....Aku bahkan berfikir, apakah ini hanya suatu siklus alam yang sedang berbenah, ataukah suatu bentuk peringatan Tuhan? Kalau siklus alam, kenapa bertubi-tubi? Kalau bentuk peringatan...apakah betul kita tidak beriman? bukankah umat-umat agama di negeri ini tampaknya telah patuh dan taat pada ajarannya....? bahkan banyak pihak yang tidak segan-segan untuk mengatakan bahwa merekalah yang paling benar...dan jumlahnya itu banyak serta beragam aliran...Kan..ini pertanda kita-kita sebenarnya telah benar....iya kan...?
Dalam suatu guyonanku dengan kawan-kawan, hingga kebingungan itu terucap.."coba JABAR-kan...kalau SUMBAR..akhirnya akan jadi apa...?
Uh...itu mungkin guyonan bodoh...tapi nggak apa-apa...dari pada bengong.

Namun demikian, yang berikut ini ada bukti keseriusannya lhooo...silakan baca...dan renungkan dalam-dalam...jangan setengah-setengah...karena maknanya ada di kedalaman.....

Gempa Sumbar yang pertama dengan kekuatan di atas 7 SR itu terjadi pada jam 17.16. Gempa susulannya (kedua) terjadi pada jam 17.38. Dua gempa itu terjadi pada tanggal 10 Syawal (10.10). Bulan Syawal sendiri merupakan bulan ke 10. Pagi harinya terjadi gempa di Jambi pada jam 8.52.

Angka-angka tersebut, jika kita kaitkan dengan al Qur'an, maka sepertinya kita akan menemukan maknanya....Tentu saja..kebenaran mutlakknya adalah kuasa Tuhan.
Untuk mengerti maknanya...maka...silakan baca al Quran:
-QS 17 ayat 16
-QS 17 ayat 38
-QS 8 ayat 52
lalu baca juga
QS 10.10, karena itu adalah petunjuk penting bagi kita.

sebelumnya mohon maaf...teks QS tersebut tidak aku tampilkan di sini, dengan tujuan anda nanti akan betul-betul mengaji al Qur'an....
Betul...Lihatlah...semoga anda menemukan makna rahasia di balik kejadian itu.
Terima kasih...wassalam...
laa haula wa laa quwwqtq illa billahil aliyil adzim...
wallohu 'alam bish showab...

Salam
Supawi Pawenang
Pondok Pangelmon



Kamis, 17 September 2009

Teori Laba

Tujuan Perusahaan
Perusahaan umumnya mempunyai banyak tujuan. Tujuan-tujuan itu dapat digolongkan sebagai tujuan antara dan tujuan akhir. Tujuan antara dapat saja berupa: perluasan pasar, diversifikasi produk, perkuatan jaringan, penguatan eksistensi, pengenalan produk, dan sebagainya. Namun, tujuan-tujuan itu akan bermuara pada tujuan akhir, yaitu laba.
Laba yang diinginkan oleh perusahaan mempunyai idealitas, bahwa laba harus besar atau banyak dan diperoleh dalam jangka waktu yang selama-lamanya. Ini wajar, karena perusahaan umumnya didirikan di atas prinsip kontinyuitas atau going concern, yaitu prinsip yang mengatakan bahwa perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang selama mungkin. Tidak ada batasan waktu tertentu yang disepakati untuk menakhiri perusahaan. Oleh karena itu, setiap manajer perusahaan berupaya untuk mencapai tujuan akhir itu secara berkesinambungan.

Hambatan Laba

Perusahaan memang berorientasi laba secara ideal, namun dalam realitasnya, idealitas itu terkendala oleh keinginan nasabah. Nasabah pada umumnya menginginkan memperoleh produk yang bermutu, memberikan banyak manfaat, tetapi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produk tersebut minimal. Perilaku konsumen ini bertolak belakang dengan keinginan perusahaan yang mengininkan harga jual tinggi dan lakunya banyak. Guna mengadapi realitas semacam itu, maka perusahaan perlu.....selanjutnya baca...

Selasa, 26 Mei 2009

Apakah Dunia Panggung Sandiwara?

Masih ingat lagunya Ahmad Albar "Panggung Sandiwara?". sepenggal kalimat dalam lagu itu "...Dunia ini panggung sandiwara...ceritannya...".

Siang tadi di saya diskusi tentang itu dengan kawan-kawan di FAI-UMS. Dari diskusi itu muncul berbagai pendapat yang saya kira memperkaya sudut pandang kita. Karena, kawan-kawan memang mengambil posisi pada sudut pandang para pemikir-pemikir yang lalu. Terutama dalam menjawab pertanyaan apakah kita manusia ini memang berperan dalam panggung sandiwara? Kita sedang berperan sebagai dosen, tentara, wartawan, tukang becak, presiden, buruh, dan sebagainya? Lontaranpertanyaan itu mendapat jawaban yang beragam. Ada yang berpendapat bahwa "apapun peran kita, perlu dihayati dengan baik. Karena dengan menghayati dan menjalankan peran dengan baik itu sutradara ataupun produser akan menghargai kita. Penonton ataupun kawan main yang lain juga akan mengapresiasi. Permainan peran kita yang kita jalani dengan baik inilah yang akan membawa kita dalam ketenaran, kemakmuran, kebanggaan, dan sebagainya. Itulah manifestasi hidup. Ketika kita suksen menjalankan suatu peran, kita mungkin, atau bahkan pasti, akan diperankan lain dengan peran yang lebih baik da lebih menantang. Kalau yang semula hanya figuran, mungkin akan mejadi pemain utama. Kalau kita tidak segera mendapatkan tawaran, kita dapat dengan inisiatif sendiri melamar pera yang menantang itu kepada penyelenggaranya. Dalam kehidupan itu adalah Tuhan. Tentu saja, sang pengambil keputusan penentu peran akan mempertimbangkan kesuksesan peran sebelumnya yang pernah kita mainkan. Kalau semula dalam berperan kita hanya menyelesaikan dengan standar minimal, maka tentu peran yang akan lebih menantang tidak akan diberikan kepada kita"...ha..ha..ha...tawa kawanku itu mengakiri jawabannya.

Tetapi bang...sahutku.."kalau dunia ini panggung sandiwara..tentunya kita memang mendapat peran yang pasti...Kalau kita dimainkan dalam peran orang yang baik-baik saja..tidak masalah bang..karena memang kitab sucipun menghendaki orang agar menjadi orang baik..Tetapi kalau kita diperankan sebagai peran jahat bagaimana..? imbalannya apakah surga? Kalau peran itu harus kita jalani dengan sebaik-baiknya, maka kejahatan yang kita lakukan harus betul-betul jahat. Semakin jahat kita akan semakin menunjukan ketaqwaan dong...? Kalau memang seperti itu, berarti neraka tidak ada...? Lha..kalau memang dunia ini panggung sandiwara.dan kita diperankan jahat...waduh...sial sekali kita...? terus dimana letak Maha Rahman dan Maha Rahim Tuhan..?"

"..ya...aliran Jabariah pandangannya memang begitu...bahwa semua ini adalah manifestasi Tuhan. Kita hanya "wayang" yang digerakkan. Apapun yang kita jalani adalah kehendak Tuhan. Ini berbeda dengan pandangan Mu'tazilah...yang mengatakan bahwa Tuhan membekali kita akal. Akal ini yang digunakan oleh manusia untuk menentukan perilakunya di dunia. Bagi orang yang berakal tentu akan memilih yang terbaik, jalan baik yang ditentukan Tuhan. Kalau pilihannya bukan jalan yang baik, itu bukan akal yang mendominasi, tetapi nafsu. Bagi Mu'tazilah, baik orang yang telah bersinggungan dengan wahyu ataupun belum, semuanya dapat menentukan baik dan buruknya perbuatan. Jawab kawanku satunya. Ia melanjutkan...lain halnya dengan sy'ariah....Perbuatan baik dan buruk itu dikabarkan oleh wahyu..melalui para rasul..melalui itab suci. Sebelum ada wahyu itu..kita berada dalam ruang yang bias yang belum bisa menntukan baik dan buruknya perilaku. peran akal hanya akan mulai aktif setelah ada pewahyuan. Satu kawanku menyahut pendek..."Kalau orang tidak pernah bersentuhan dengan pewahyuan berarti bebas hukum...?"...Yang tadi kembali menjawab.."mestinya tidak ada yang lepas dri wahyu..karena di dalam kitab suci dijelaskan bahwa Tuhan telah menunjuk utusannya untuk menyampaikan ajaran pada semua insan."

"Tuhan memang telah mengilhami manusia perbuatan jahat dan perbuatan baik lengkap dengan segala informasinya tentang balasannya. Manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Kalau mau surga, ya pilih yang baik. Kalau mau neraka, ya pilih yang buruk. Itu pilihan bebas yang rasional. Manusia itu diciptakan sebaik-baiknya ciptaan, tetapi kalau tidak mengguakan akalnya untuk memilih apa yang diperintakan Tuhan, maka ia akan terjerembab masuk ke dalam lembah asfala safilin. Maka, manusia itu perlu berlomba-loba dalam kebaikan. Ibarat kita berjalan, kita ini mendapat daya tarikan dari dua sisi. Sisi kiri ini tarikan setan yang akan menjatuhkan dalam kesengsaraan, sisi negatif, di sebelah kanan kita ditarik malaikat yang akan menjatuhkan ke dalam surga. Akal kita membantu tarikan malaikat, tetapi nafsu kita membantu tarikan setan. Kita dikatakan berhasil kalau tarikan kebaikan ini yang menang. Jadi, sejatinya..kita hidup ini sudah berada dalam perjuangan untuk memenangkan. Shiroth al mustaqim itu ya yang kita jalani dalam hidup ini... " sergah kawanku yang semula diam.

Rabu, 20 Mei 2009

Kaderisasi Generasi Laduni

Agama mengabarkan bahwa setelah manusia menjalani hidup di dunia, semua akan menuju ke alam keabadian. Keabadian dalam bahagia atau keabadian dalam penderitaan. Untuk menuju alam kebahagiaan, syarat utamanya adalah taqwa, menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dan menjauhi larangannya. Namun demikian, itu tidak mudah. Beragam godaan melilit geliat manusia untuk berusaha "meniadanan selain Ada". Sehingga, menegasi selain Ada sulit dilakukan. Padahal, Nafs al Muthmainah yang dijanjikan surga itu adalah ketika kita berani "Meniadakan selain Ada".
Materi, merupakan sesuatu yang paling kuat menggenggam kita menjadi terpedaya olehnya, sehingga nafsu serakah, amarah, gelisah, mewabah di dalam setiap tarikan nafas, menyusahkan untuk mendaki menuju kesucian. Padahal, dalam kesucian itu penyibaan (kasyf) ada.
Proses keilmuan dalam upaya menemukan kesejatian menuju muthmainah itu masih mengalami kekurangan. Keilmuan selama ini masih parsial. Pada sekelompok memaknai secara positivistik, materialistik. Kelompok-kelompok lain ada yang menekankan pada unsur idea yang cenderung metafisis. Pemahaman yang tidak holistik seperti itu yang menyebabkan jalan menuju kasyf terkendala.
Filsafat ilmu yang sekarang berkembang, dapat dikelompokkan kedalam tiga aliran, yaitu rasionalisme, empirisisme, dan metafisis. Ketiga-tiganya ini sayangnya tidak dipahami secara bersama-sama dan holistik, tetapi hanya dipahami secara parsial. Misalnya, paham rasionalisme berhenti pada metafisis, di sisi laim ada yang hanya terhenti pada rasionalisme dan empirisisme, mengabaikan metafisis. Pola pandang seperti ini memunculkan dikotomi Islam-Barat, Revivalis-Modernis, dan lain-lain.
Menurut saya ketiganya perlu digabung, sehingga kebenaran dapat dipahami secara utuh. Kita dapat melihat kebenaran berdasar rasio, sekaligus empiri, sekaligus suara Tuhan yang metafisis.
Penggabungan tiga aliran keilmuan ini yang kami coba kembangkan di Pondok Pangelmon. Hasilnya sudah mulai nyata. Sebagian keberhasilan itu kami beritakan dalam tulisan tentang "Dua Anakku Spiritualis". Wallahu 'alam bishshowab. Laa haula wa laa quwwata illa billahilaliyil adzim.

Minggu, 18 Januari 2009

Dua Anakku Spiritualis

Saat ini (januari 2009) aku dikaruniai 3 anak. Argawi kandito (Lk, 14), Netya Dzihni Kinanggit (Pr, 9), Qolbi Yustisia Pinawang (Pr, 7 bln). Dari ketiga anak tersebut, dua anakku yang pertama ternyata mempunyai kemampuan spiritualitas, yang menurut saya, cukup tinggi. Beberapa kemampuan dimiliki oleh mereka berdua, yang ini sepertinya merupakan hal langka. Kemampuan itu antara lain: Mereka dapat secara langsung berkomunikasi dengan Tuhan maupun dengan Nabi (conversation with God and Prophet). Untuk hal ini, Toto, panggilan akrab Argawi Kandito, telah menuliskannya di buku pertama yang diberi judul "Berjumpa 26 Nabi: Pengalaman Spiritual Seorang Bocah" diterbitkan oleh Pustaka Pesantren, LKiS Yogjakarta. Berkomunikasi dengan binatang, tumbuhan, benda-benda lainnya juga dapat dilakukan.
Mereka juga memiliki kemampuan penginderaan jarak jauh, mendeteksi kesehatan, mencarikan obat untuk penyakit, serat dapat melakukan flash back atas kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Kemampuan ini sudah diabdikan untuk masyarakat yang memerlukan bantuan mereka.
Toto juga mampu mengindera jin, dan beberapa alam gaib lain. Pengalaman ini telah dibukukan ke dalam buku keduanya, yang sebentar lagi terbit, dengan judul (rencana) "Realitas Gaib", yang juga diterbitkan oleh Pustaka Pesantren-LKiS Yogjakarta.
Kinanggit juga sudah bisa melakukan, hanya saja mengingat usianya yang masih sangat muda, belum saya ijinkan untuk megakses jin, yang wajah dan wataknya, banyak yang mengerikan.
Publikasi ini, tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada khalayak, bahwa ada kebenaran lain yang dapat dicapai melalui metode keilmuan yang lain dari pada yang bersifat positifistik, yang selama ini dipelajari.
Wallohu'alam bishshowab.

group

  • groups.google.com/group/pangelmon-spiritualitas
  • pangelmon-spiritualitas@googlegroups.com

Bagaimana pendapat anda tentang tulisan ini

Salam Kenal

kunjungi pula blog http://spiritual-pandrik.blogspot.com/