Didirikan oleh Supawi Pawenang. Ia adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Pasca Sarjana Universitas Islam Batik Surakarta, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.Menekuni Filsafat Ekonomi.; Acc. Bank Mandiri Surakarta No.138-00-0689319-7 a.n. Supawi Pawenang; Acc. BPD Jateng Cab. Surakarta No.2-002-11942-5 a.n. Supawi Pawenang
Kontak Person
Phone: 08122624412
BANK
Acc. Bank Mandiri Surakarta No.138-00-0689319-7 a.n. Supawi Pawenang;
Acc. BPD Jateng Cab. Surakarta No.2-002-11942-5 a.n. Supawi Pawenang;
BANK
Acc. Bank Mandiri Surakarta No.138-00-0689319-7 a.n. Supawi Pawenang;
Acc. BPD Jateng Cab. Surakarta No.2-002-11942-5 a.n. Supawi Pawenang;
Sabtu, 27 April 2013
Anakku, Kau Perlu Menjunjung Tinggi Etika…
Anakku, Kau Perlu Menjunjung Tinggi Etika…
(oleh: Supawi Pawenang)
Anakku, Kau perlu menjunjung tinggi etika
Itu penting, karena dengannya itu orientasi ada
Dan…dengan orientasi itu kau akan menemukan makna sejati..
Dan..Kau akan mengerti sendiri apa yang harus kau lakukan
Dan..kau akan menemukan jawaban tentang kenapa harus begini..
Anakku, ada yang beda antara etika dan moral…
Kau harus paham itu…
Etika itu sebuah ilmu…bukan ajaran…
Etika itu pemikiran kritis tentang ajaran dan pandangan tentang moral..
Etika itu filosofis….jadi…bisa lebih unggul dibanding moral..
Karena etika berusaha mengerti dasar ajaran…
Namun etika bisa tak lebih hebat dibanding moral…
Karena etika tidak berwenang untuk menetapkan apa yang boleh dilakukan..
Anakku…Etika itu pemikiran sistematis tentang moralitas..
Etika itu untuk kehidupan…bukan kewajiban
Etika itu melahirkan pengertian…
Jadi…lain…berbeda…dengan moral…
Anakku…Moral itu ajaran…
Ajaran tentang bagaimana manusia bertindak..
Maka ukurannya baik atau buruk…
Dalam kehidupan ia bersifat harus…
Dan outputnya adalah kebaikan atau keburukan…
Anakku…lihatlah realita kehidupan ini…
Dunia semakin berada pada kondisi yang pluralistic..
Kondisi dimana tak ada lagi kesatuan tatanan normatif…
Maka…orang-orang pun lantas bertanya…
Mana…? Apa…?
Mana yang harus kita pedomani..?
Apa yang harus kita pakai?
Semua lantas cenderung pada relativitas…
Saat itulah etika penting…
Demi harmoni…
Anakku… Kau perlu menjunjung tinggi etika
Supawi Pawenang
Pondok Pangelmon Pawenang, Okt 2011.
Rabu, 13 Juli 2011
Reward and Punishment: Pandangan Etika dalam Manajemen
Reward and Punishment: Pandangan Etika dalam Manajemen
Oleh: Supawi Pawenang
Abstraksi
Reward and punishment sering digunakan sebagai kebijakan dalam manajemen. Kegiatan itu mempunyai dasar teori-teori etika, terutama teori etika berbasis behaviorisme. Sebagaimana behaviorisme, ada kelemahan mendasar karena hanya melihat dari sisi luar berupa perilaku yang tampak saja, dan bersifat temporer. Ketika ini dikaitkan dengan nilai etika yang membahas secara total, seperti teori etika tanggung jawabnya Levinas, yang terkenal dengan teori totalitas, dan teori etika Islam, nampak ada ketimpangan. Letak ketimpangannya adalah pada pengakuan unsur metafisika yang digabungkan pula dengan fisika, yang itu tidak menjadi dasar teori etika behaviorisme.
Kata kunci: reward and punishment, behaviorisme, teori etika.
baca selengkanya...
Oleh: Supawi Pawenang
Abstraksi
Reward and punishment sering digunakan sebagai kebijakan dalam manajemen. Kegiatan itu mempunyai dasar teori-teori etika, terutama teori etika berbasis behaviorisme. Sebagaimana behaviorisme, ada kelemahan mendasar karena hanya melihat dari sisi luar berupa perilaku yang tampak saja, dan bersifat temporer. Ketika ini dikaitkan dengan nilai etika yang membahas secara total, seperti teori etika tanggung jawabnya Levinas, yang terkenal dengan teori totalitas, dan teori etika Islam, nampak ada ketimpangan. Letak ketimpangannya adalah pada pengakuan unsur metafisika yang digabungkan pula dengan fisika, yang itu tidak menjadi dasar teori etika behaviorisme.
Kata kunci: reward and punishment, behaviorisme, teori etika.
baca selengkanya...
Epistemologi Keilmuan Teoantroposentrik-Integralistik
Oleh: Supawi Pawenang
Abstraksi
Mainstream keilmuan sekarang ini tidak menunjukkan hubungan moralitas dalam keilmuan itu. Sehingga bisa dikatakan bahwa keilmuan itu mempunyai cacat epistemology juga aksiologi. Sebabnya adalah tekanan keilmuan hanya melulu pada obyek yang tampak, terukur, dan mampu diindera saja. Ilmu selama ini mengabaikan ranah metafisika. Padahal dalam kehidupan manusia senantiasa berhubungan dengan aspek metafisika. Moralitas juga berada didalam ranah metafisika. Maka problem moralitas seperti yang terjadi pada saat ini susah untuk hanya bisa didekati melulu dari ilmu pengetahuan. Peran agama diperlukan untuk mengatasi kelemahan keilmuan saa ini. Penggabungan antara aspek agama dan aspek keilmuan ini yang dinamakan teoantroposentrik-integralistik.
Kata Kunci: teoantroposentrik-integralistik.
Baca selengkapnya
Oleh: Supawi Pawenang
Abstraksi
Mainstream keilmuan sekarang ini tidak menunjukkan hubungan moralitas dalam keilmuan itu. Sehingga bisa dikatakan bahwa keilmuan itu mempunyai cacat epistemology juga aksiologi. Sebabnya adalah tekanan keilmuan hanya melulu pada obyek yang tampak, terukur, dan mampu diindera saja. Ilmu selama ini mengabaikan ranah metafisika. Padahal dalam kehidupan manusia senantiasa berhubungan dengan aspek metafisika. Moralitas juga berada didalam ranah metafisika. Maka problem moralitas seperti yang terjadi pada saat ini susah untuk hanya bisa didekati melulu dari ilmu pengetahuan. Peran agama diperlukan untuk mengatasi kelemahan keilmuan saa ini. Penggabungan antara aspek agama dan aspek keilmuan ini yang dinamakan teoantroposentrik-integralistik.
Kata Kunci: teoantroposentrik-integralistik.
Baca selengkapnya
Kamis, 15 Juli 2010
Senin, 14 Juni 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
group
- groups.google.com/group/pangelmon-spiritualitas
- pangelmon-spiritualitas@googlegroups.com
Bagaimana pendapat anda tentang tulisan ini
Salam Kenal
kunjungi pula blog http://spiritual-pandrik.blogspot.com/