Kontak Person

Phone: 08122624412

BANK
Acc. Bank Mandiri Surakarta No.138-00-0689319-7 a.n. Supawi Pawenang;
Acc. BPD Jateng Cab. Surakarta No.2-002-11942-5 a.n. Supawi Pawenang;

Minggu, 18 Januari 2009

Dua Anakku Spiritualis

Saat ini (januari 2009) aku dikaruniai 3 anak. Argawi kandito (Lk, 14), Netya Dzihni Kinanggit (Pr, 9), Qolbi Yustisia Pinawang (Pr, 7 bln). Dari ketiga anak tersebut, dua anakku yang pertama ternyata mempunyai kemampuan spiritualitas, yang menurut saya, cukup tinggi. Beberapa kemampuan dimiliki oleh mereka berdua, yang ini sepertinya merupakan hal langka. Kemampuan itu antara lain: Mereka dapat secara langsung berkomunikasi dengan Tuhan maupun dengan Nabi (conversation with God and Prophet). Untuk hal ini, Toto, panggilan akrab Argawi Kandito, telah menuliskannya di buku pertama yang diberi judul "Berjumpa 26 Nabi: Pengalaman Spiritual Seorang Bocah" diterbitkan oleh Pustaka Pesantren, LKiS Yogjakarta. Berkomunikasi dengan binatang, tumbuhan, benda-benda lainnya juga dapat dilakukan.
Mereka juga memiliki kemampuan penginderaan jarak jauh, mendeteksi kesehatan, mencarikan obat untuk penyakit, serat dapat melakukan flash back atas kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Kemampuan ini sudah diabdikan untuk masyarakat yang memerlukan bantuan mereka.
Toto juga mampu mengindera jin, dan beberapa alam gaib lain. Pengalaman ini telah dibukukan ke dalam buku keduanya, yang sebentar lagi terbit, dengan judul (rencana) "Realitas Gaib", yang juga diterbitkan oleh Pustaka Pesantren-LKiS Yogjakarta.
Kinanggit juga sudah bisa melakukan, hanya saja mengingat usianya yang masih sangat muda, belum saya ijinkan untuk megakses jin, yang wajah dan wataknya, banyak yang mengerikan.
Publikasi ini, tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada khalayak, bahwa ada kebenaran lain yang dapat dicapai melalui metode keilmuan yang lain dari pada yang bersifat positifistik, yang selama ini dipelajari.
Wallohu'alam bishshowab.

Sabtu, 13 Desember 2008

AYAT-AYAT EKONOMI

  1. An Nisaa’ (4);29 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.
  2. Al Faathir (35);29 Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi.
  3. At Takaatsur (102);1 Bermegah-megahan telah melalikan kamu. (Maksudnya: bermegah-megahan dalam soal banyak anak, harta, pengikut, kemuliaan dan seumpamanya telah melalikan kamu dari ketaatan).
  4. An Nisaa’ (4); 32 Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
  5. Al Israa’ (17); 35 Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Al Israa’ (17); 36 Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.
  6. Ar Ruum (30);40 Allah-lah yang mencipakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.
  7. An Nuur (24);38 (mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia kepadaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas.
  8. At Taghaabun (64);15 Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allahlah pahala yang besar At Taghaabun (64);16 Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah, dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. At Taghaabun (64);17 Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasanNya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.
  9. An Nahl (16);71 Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mengapa mereka mengingkari nikmat Allah. (Ini merupakan dasar ukhuwah dan persamaan dalam Islam).
  10. Al Anfaal (8);41 Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rsaul, kerabat Rasul, Anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa (penj: malaikat dan pertolongan) yang Kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.
  11. Al baqarah (2);275 Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
  12. Al Baqarah (2); 280 Dan, jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian tau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahuinya.
  13. At taubah (9);34 Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim yahudi dan Rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
  14. Al Baqarah (2); 254 Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dhalim.
  15. Al Baqarah (2); 267 Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dario hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan kepadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji.
  16. Al Baqarah (2); 271 Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
  17. Al Baqarah (2); 261 Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia keghendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.
  18. Al Baqarah (2); 265 Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
  19. .....masih ada lanjutannya.....(spw)

Rabu, 26 November 2008

Sabtu, 25 Oktober 2008

Economic Ejakulatif

Akhir Minggu ketiga bulan Oktober 2008, rakyat Indonesia yang memerhatikan pergerakan ekonomi makro mungkin tercengang, dan sedikit agak khawatir, terutama para pengusaha yang sedang membutuhkan US dollar untuk pembayaran. Karena, rupiah terdepresiasi menjadi Rp.10.010,00 per 1 USD. Mungkin baru sekitar tiga tahunan terakhir merasakan nilai tukar rupiah (NTR) stabil, tetapi kini fluktuasi lagi. Periode-periode sebelumnya juga sering kali begitu, terutama menjelang keruntuhan rezim Orde Baru (1997-hingga 2005). Gejolak sep0erti ini tidak hanya dialami oleh Indonesia saja. Negara-negara lain juga begitu. Tidak hanya negeri miskin, negeri berkembang, negeri majupun begitu. Lihat saja akhir-akhir ini, Amerika Serikatpun mengalami keterpurukan nilai tukar, bahkan krisis finansial. Dampaknya meluas, tidak hanya menjangkiti negeri itu saja, tetapi negeri-negeri seberang yang berhubungan langsung dengannya ataupun yang tidak langsung, semua merasakan dampak krisis keuangan ini. Uang semakin sulit dipegang oleh rakyat, ekonomipun perlahan mengalami perlambatan.
Kejadian krisis seperti itu akan terus terjadi. Kebanyakan faktor penyebabnya adalah alamiah adanya konjungsi dari globalisme ekonomi, bukan faktor konspirasi. Faktor konspirasi memang sering kali dimainkan oleh kelompok-kelompok tertentu, dengan tujuan mencapai keuntungan kelompoknya, baik itu oleh kelompok dalam arti pemerintahan suatu negara, fund manager, maupun lembaga-lembaga lain. Tetapi krisis finansial dunia saat ini adalah murni faktor alamiah.
Ini adalah sifat dari globalisme ekonomi yang konsekuensinya adalah adanya suatu korban dalam setiap siklus ekonomi. Siklus ekonomi sendiri makin lama makin semakin pendek. Artinya korban pun akan semakin sering dan semakin banyak, juga semakin parah. Kalau dilihat dari ukuran krisis yang pernah ada di Amerika, mungkin ini disepadankan dengan great depression tahun 1929-1930an. Tetapi kalau ukurannya adalah negara-negara berkembang atau negara-negara di luar Amerika, ya tentunya banyak kesepadanannya. Ada krisis Amerika Latin berpusat di Mexico, Asia Tenggara berpusat di Indonesia, Eropa di Itali, Afrika hampir disemua negara. Sebenarnya di Amnerika Serikat sendiri, krisis-krisis keuangan yang scopenya lebih kecil dibanding saat ini juga banyak. Seperti krisis ekonomi yang kemudian memunculkan sepak terjang politik AS di negara-negara lain. Misalnya, penyerangan ke Vietnam, Afganistan, Irak, dan sebagainya. Agresifitas AS itu tidak dapat dilepaskan dari krisis ekonomi yang dialaminya.
Perilaku agresif seperti itu, sebenarnya adalah upaya membuka pasar baru, mendapatkan sumber energi baru, wilayah kaptive baru, dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk melancarkan kembali tumpukan-tumpukan ekonomi yang tak tersalurkan, karena kelebihan pasokan. Supaya kelihatannya tidak negatif, maka bungkusnya harus positif, seperti keadilan, keamanan, dan sebagainya.
Kondisi ini akan terus berulang apabila tetap memakai sistem seperti ini. Ini murni bawaan sistem perekonomian yang berlaku di dunia ini, yang saya lebih suka menyebutnya dengan sistem ekonomi yang bersifat ejakulatif. Kata ini sepertinya yang tepat menurut saya, karena ada berbagai alasan, seperti:
1) sistem ekonomi sekarang ini dibangkitkan oleh libido materi yang harus dipenuhi dengan perilaku konsumsi yang terus eskalatif dan harus terus diimbangi dengan produktifitas dengan perilaku yang sama. Pada alasan ini, tidak ada istilah istirahat atau bersantai-santai. Karena sifatnya yang bersifat menyegera (nafsu) maka inilah libido.
2) ketahanan ekonomi hanya terjadi ketika libido konsumsi dan libido produksi seimbang. Ketika kedua libido ini seimbang, maka hasrat untuk penetrasi pasar akan membesar pula. Ketika telah terjadi penetrasi pasar dengan maksimal, maka segala aktivitas ekonomi dengan sumbangan seluruh sumbernya akan menggambarkan kondisi yang paling maksimal. Kondisi itu berada dalam keadaan yang menyejahterakan, yang membanggakan, serta kondisi yang penuh kenikmatan. Pada saat itu, libido akan semakin meningkat dan semakin tidak ada ruang lagi yang mampu mengimbangi dahsyatnya libido itu. semua energi yang ada akan tercurahkan semua, semua jenis upaya penahanan hasrat bobol, seluruh energi tercurahkan... dan itu yang disebut dengan ejakulasi, economic ejakulatif. Setelah ekonomi mengalami ejakulasi, maka energi ekonomi secara perlahan akan mengalami kelemahan dan gerakannya menjadi turun drastis perlahan, hingga terjadi stagnasi ekonomi. Saat itu seluruh energi menghilang...tidak ada daya lagi untuk membangkitkan gerakan ekonomi selayaknya ketika saat libido. semua menjadi lemas...energi tak segera bangkit...aktivitas tidak ada lagi...ia akan membangkit menjadi libido lagi jika telah terjadei keseimbangan baru dengan energi baru, dan ketika semua variabel mendukungnya. Tidak boleh ada satupun faktor yang tidak mendukung. Satu saja faktor pendukungnya tidak ideal, maka akan terjadi ketidak seimbangan, dan energi yang membangkitkan libido akan terkuras, dan ekonomipun akan lemas. tak bergerak, tak berdaya, dan inilah yang disebut dengan krisis, atau letoy economics.
3) Krisis akan bangkit lagi, libido ekonomi akan meningkat lagi, ketika ada sumber daya baru, pasar baru, semangat baru. Ini dapat dilakukan dengan jangka waktu yang pendek atau jangka waktu yang panjang. Jika yang dijunjung tinggi adalah bangkitnya ekonomi menuju keseimbangan secara alamiah, maka pemerintah tdak perlu melakukan upaya-upaya konspiratif. Biarkanlah terjadi pemulihan secara apa adanya. Kalau memilih seperti ini, maka berarti mengikut aliran klasik. Namun, bila yang diinginkannya adalah pemulihan jangka cepat, maka perlu dilakukan upaya konspiratif untuk membangkitkan libido, dengan cara menggunakan suplemen, yang ini memerlukan peran pemerintah untuk intervensi secara politik, peningkatan agresifitas, dan upaya-upaya lain, yang tinjauannya tentu kedirian, bukan sosial lagi. Ingat....Suplemen adalah untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Tidak peduli engkau kuat...yang penting aku kuat...itulah semboyan ekonomi yang didrive oleh suplemen. Tentu saja, suplemen yang digunakan harus teruji, sahih, quick respon, agar segera dapat membuka pasar dan penetrasi ke dalam pasar dapat dimulai lagi.

ditulis oleh:
Kang Pawie

Rabu, 23 Juli 2008

Moral Berekonomi

Keynes menulis buku yang terkenal, yaitu yang berjulul “The General Theory” dan beberapa essay. Di antaranya adalah Essay in Persuassion yang berjulul “ Economic Posibilities for our Grandchildren”. Kedua karya tulis itu berintikan pada masalah kemanusiaan. Menurutnya, manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini menuju kepada arah bahaya (dangerous human proclivities). Bahaya itu timbul, menurut pengamatannya, karena ditimbulkan oleh perilaku kerja manusia yang hampir sepenuhnya menghadapi berbagai bentuk dosa-dosa, seperti adanya kejahatan, kesembronoan, kekejaman, eksploitasi, dan lain-lain, yang semuanya timbul akibat adanya kepentingan individu yang berorientasi mengejar kekuasaan (personal power) dan bentuk-bentuk lain, melalui hegemoni kekuasaan, harta, pengaruh, dan lain-lain.
Akibat perilaku seperti itu, maka orang mempunyai kecurigaan yang tinggi sesama orang. Untuk mengatasi itu maka kepercayaan dialihkan kepada sebuah institusi atau lembaga yang dapat diakses oleh orang kebanyakan, seperti bank, asuransi, dan lain-lain. Kepercayaan terhadap lembaga keuangan menjadi tinggi, dikarenakan aktivitas manusia kebanyakan bergantung pada usaha bagaimana memenuhi keinginan untuk mencari uang.
Berdasar pada pendapatnya seperti itu, maka Keynes berkesimpulan bahwa dalam waktu 1 abad (100 tahun sejak pemikirannya itu), kapitalisme akan terhenti. Ia juga berpendapat bahwa tidak ada sistem lain yang dapat menggantikannya. Menurutnya gantinya yang paling tepat adalah munculnya negara demokrasi. Pendapat Keynes ini diikuti oleh Milton Friedman. Oleh karena itu Friedman menekankan perlunya mekanisme pasar (market mechanism), karena mekanisme pasar merupakan cerminan dari demokratisasi. Mekanisme pasar sendiri menurut Friedman bukanlah untuk melayani Tuhan tetapi untuk melayani kehendak-kehendak yang tidak terpuji agar menjadi lebih terpuji (to serve not God but the devil). Pendukung lainnya, Samuelson mengatakan bahwa moralitas dalam ekonomi dapat ditingkatkan melalui penetapan teknik yang baik dalam mendesain ekonomi.
Pendapat Samuelson ini senada dengan Kate Soper yang mengatakan:
“satisfaction its permit to the ethical demand or justice and equity in the distribution of goods, as (much as) it has to do with the material gratification afforded by those goods”.

Teori Penilaian Keadilan: Heuristik Penilaian Keadilan

Ide teori ini berasal dari Alland Lind dan dikembangkan oleh Kees van Den Boss. Tujuan dari teori ini adalah mencari penilaian keadilan yang mudah diterapkan. Latar belakang munculnya teori ini adalah adanya pendapat atau kritikan terhadap teori perbandingan sosial yang menurutnya tidak siap diimplementasikan. Teori ini menekankan pada proses kognitif dalam menilai keadilan, yang dibagi ke dalam tiga tahapan kognisi, yaitu: tahapan pra pembentukan, tahapan pembentukan, dan tahapan pasca pembentukan. Pada tahapan pra pembentukan diawali dengan pertanyaan permasalahan tentang mengapa? Kapan? Dan sebagainya. Ini menunjukkan adanya kepedulian awal tentang keadilan, yang kemudian memunculkan berbagai hipotesis seperti adanya relasi sosial, positioning, serta kepastian jawaban. Tahap pembentukan telah melihat pada perlakuan yang diterima, yang terkait dengan pertanyaan tentang prosedur, dan distribusinya. Pertanyaan tentang prosedur mempertanyakan tentang kelompok ataukan bukan kelompok. Sedangkan untuk distributif mempertanyakan tentang inklusi ataukah eksklusi. Tahap pasca pembentukan lebih melihat pada tingkat kepedulian atas suatu problem keadilan.
Penilaian keadilan menggunakan proses kognitif mempunyai dua peran, yaitu ukuran relasi-relasi sosial dan pedoman interpretasi peristiwa berikutnya. Kedua-duanya merupakan keterkaitan antara penilaian keadilan yang bersifat prosedural dan disributif.

Teori Penilaian Keadilan: Preferensi Kognisi

Teori ini merupakan reaksi atas keadilan distributif. Teori ini lebih melihat pada simulasi mental dalam melihat peristiwa atau keadaan yang berbeda dengan yang dialami. Teori ini lebih menekankan pada bagaimana cara berfikirnya sehingga asumsinya adalah adanya proses analisis dengan kognisi yang dapat berbentuk simulasi heuristik, yaitu proses imaginatif tentang berbagai pencapaian. Proses ini memerlukan tiga tahapan, yaitu referensi hasil, justifikasi, serta peluang. Referensi hasil dapat berupa sesuatu yang telah nyata atau masih bersifat imaginatif. Justifikasi dapat dilihat dari kesesuaian, penerimaan secara moral, juga hubungan yang selaras antara dua hal. Peluang mencerminkan prognosa hasil. Ketiga hal ini disimpulkan menjadi output penilaian keadilan. Sesuatu dikatakan adil jika referensi hasilnya rendah, justifikasinya tinggi, dan peluangnya juga tinggi. Sementara sesuatu dikatakan tidak adil jika referensi hasilnya tinggi, namun jastifikasi ataupun peluangnya rendah.
Teori ini hanya menggambarkan deprivasi relatif sehingga tidak diakui sebagai penilaian keadilan.

group

  • groups.google.com/group/pangelmon-spiritualitas
  • pangelmon-spiritualitas@googlegroups.com

Bagaimana pendapat anda tentang tulisan ini

Salam Kenal

kunjungi pula blog http://spiritual-pandrik.blogspot.com/