Kontak Person

Phone: 08122624412

BANK
Acc. Bank Mandiri Surakarta No.138-00-0689319-7 a.n. Supawi Pawenang;
Acc. BPD Jateng Cab. Surakarta No.2-002-11942-5 a.n. Supawi Pawenang;

Kamis, 17 September 2009

Teori Laba

Tujuan Perusahaan
Perusahaan umumnya mempunyai banyak tujuan. Tujuan-tujuan itu dapat digolongkan sebagai tujuan antara dan tujuan akhir. Tujuan antara dapat saja berupa: perluasan pasar, diversifikasi produk, perkuatan jaringan, penguatan eksistensi, pengenalan produk, dan sebagainya. Namun, tujuan-tujuan itu akan bermuara pada tujuan akhir, yaitu laba.
Laba yang diinginkan oleh perusahaan mempunyai idealitas, bahwa laba harus besar atau banyak dan diperoleh dalam jangka waktu yang selama-lamanya. Ini wajar, karena perusahaan umumnya didirikan di atas prinsip kontinyuitas atau going concern, yaitu prinsip yang mengatakan bahwa perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang selama mungkin. Tidak ada batasan waktu tertentu yang disepakati untuk menakhiri perusahaan. Oleh karena itu, setiap manajer perusahaan berupaya untuk mencapai tujuan akhir itu secara berkesinambungan.

Hambatan Laba

Perusahaan memang berorientasi laba secara ideal, namun dalam realitasnya, idealitas itu terkendala oleh keinginan nasabah. Nasabah pada umumnya menginginkan memperoleh produk yang bermutu, memberikan banyak manfaat, tetapi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produk tersebut minimal. Perilaku konsumen ini bertolak belakang dengan keinginan perusahaan yang mengininkan harga jual tinggi dan lakunya banyak. Guna mengadapi realitas semacam itu, maka perusahaan perlu.....selanjutnya baca...

Selasa, 26 Mei 2009

Apakah Dunia Panggung Sandiwara?

Masih ingat lagunya Ahmad Albar "Panggung Sandiwara?". sepenggal kalimat dalam lagu itu "...Dunia ini panggung sandiwara...ceritannya...".

Siang tadi di saya diskusi tentang itu dengan kawan-kawan di FAI-UMS. Dari diskusi itu muncul berbagai pendapat yang saya kira memperkaya sudut pandang kita. Karena, kawan-kawan memang mengambil posisi pada sudut pandang para pemikir-pemikir yang lalu. Terutama dalam menjawab pertanyaan apakah kita manusia ini memang berperan dalam panggung sandiwara? Kita sedang berperan sebagai dosen, tentara, wartawan, tukang becak, presiden, buruh, dan sebagainya? Lontaranpertanyaan itu mendapat jawaban yang beragam. Ada yang berpendapat bahwa "apapun peran kita, perlu dihayati dengan baik. Karena dengan menghayati dan menjalankan peran dengan baik itu sutradara ataupun produser akan menghargai kita. Penonton ataupun kawan main yang lain juga akan mengapresiasi. Permainan peran kita yang kita jalani dengan baik inilah yang akan membawa kita dalam ketenaran, kemakmuran, kebanggaan, dan sebagainya. Itulah manifestasi hidup. Ketika kita suksen menjalankan suatu peran, kita mungkin, atau bahkan pasti, akan diperankan lain dengan peran yang lebih baik da lebih menantang. Kalau yang semula hanya figuran, mungkin akan mejadi pemain utama. Kalau kita tidak segera mendapatkan tawaran, kita dapat dengan inisiatif sendiri melamar pera yang menantang itu kepada penyelenggaranya. Dalam kehidupan itu adalah Tuhan. Tentu saja, sang pengambil keputusan penentu peran akan mempertimbangkan kesuksesan peran sebelumnya yang pernah kita mainkan. Kalau semula dalam berperan kita hanya menyelesaikan dengan standar minimal, maka tentu peran yang akan lebih menantang tidak akan diberikan kepada kita"...ha..ha..ha...tawa kawanku itu mengakiri jawabannya.

Tetapi bang...sahutku.."kalau dunia ini panggung sandiwara..tentunya kita memang mendapat peran yang pasti...Kalau kita dimainkan dalam peran orang yang baik-baik saja..tidak masalah bang..karena memang kitab sucipun menghendaki orang agar menjadi orang baik..Tetapi kalau kita diperankan sebagai peran jahat bagaimana..? imbalannya apakah surga? Kalau peran itu harus kita jalani dengan sebaik-baiknya, maka kejahatan yang kita lakukan harus betul-betul jahat. Semakin jahat kita akan semakin menunjukan ketaqwaan dong...? Kalau memang seperti itu, berarti neraka tidak ada...? Lha..kalau memang dunia ini panggung sandiwara.dan kita diperankan jahat...waduh...sial sekali kita...? terus dimana letak Maha Rahman dan Maha Rahim Tuhan..?"

"..ya...aliran Jabariah pandangannya memang begitu...bahwa semua ini adalah manifestasi Tuhan. Kita hanya "wayang" yang digerakkan. Apapun yang kita jalani adalah kehendak Tuhan. Ini berbeda dengan pandangan Mu'tazilah...yang mengatakan bahwa Tuhan membekali kita akal. Akal ini yang digunakan oleh manusia untuk menentukan perilakunya di dunia. Bagi orang yang berakal tentu akan memilih yang terbaik, jalan baik yang ditentukan Tuhan. Kalau pilihannya bukan jalan yang baik, itu bukan akal yang mendominasi, tetapi nafsu. Bagi Mu'tazilah, baik orang yang telah bersinggungan dengan wahyu ataupun belum, semuanya dapat menentukan baik dan buruknya perbuatan. Jawab kawanku satunya. Ia melanjutkan...lain halnya dengan sy'ariah....Perbuatan baik dan buruk itu dikabarkan oleh wahyu..melalui para rasul..melalui itab suci. Sebelum ada wahyu itu..kita berada dalam ruang yang bias yang belum bisa menntukan baik dan buruknya perilaku. peran akal hanya akan mulai aktif setelah ada pewahyuan. Satu kawanku menyahut pendek..."Kalau orang tidak pernah bersentuhan dengan pewahyuan berarti bebas hukum...?"...Yang tadi kembali menjawab.."mestinya tidak ada yang lepas dri wahyu..karena di dalam kitab suci dijelaskan bahwa Tuhan telah menunjuk utusannya untuk menyampaikan ajaran pada semua insan."

"Tuhan memang telah mengilhami manusia perbuatan jahat dan perbuatan baik lengkap dengan segala informasinya tentang balasannya. Manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Kalau mau surga, ya pilih yang baik. Kalau mau neraka, ya pilih yang buruk. Itu pilihan bebas yang rasional. Manusia itu diciptakan sebaik-baiknya ciptaan, tetapi kalau tidak mengguakan akalnya untuk memilih apa yang diperintakan Tuhan, maka ia akan terjerembab masuk ke dalam lembah asfala safilin. Maka, manusia itu perlu berlomba-loba dalam kebaikan. Ibarat kita berjalan, kita ini mendapat daya tarikan dari dua sisi. Sisi kiri ini tarikan setan yang akan menjatuhkan dalam kesengsaraan, sisi negatif, di sebelah kanan kita ditarik malaikat yang akan menjatuhkan ke dalam surga. Akal kita membantu tarikan malaikat, tetapi nafsu kita membantu tarikan setan. Kita dikatakan berhasil kalau tarikan kebaikan ini yang menang. Jadi, sejatinya..kita hidup ini sudah berada dalam perjuangan untuk memenangkan. Shiroth al mustaqim itu ya yang kita jalani dalam hidup ini... " sergah kawanku yang semula diam.

Rabu, 20 Mei 2009

Kaderisasi Generasi Laduni

Agama mengabarkan bahwa setelah manusia menjalani hidup di dunia, semua akan menuju ke alam keabadian. Keabadian dalam bahagia atau keabadian dalam penderitaan. Untuk menuju alam kebahagiaan, syarat utamanya adalah taqwa, menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan dan menjauhi larangannya. Namun demikian, itu tidak mudah. Beragam godaan melilit geliat manusia untuk berusaha "meniadanan selain Ada". Sehingga, menegasi selain Ada sulit dilakukan. Padahal, Nafs al Muthmainah yang dijanjikan surga itu adalah ketika kita berani "Meniadakan selain Ada".
Materi, merupakan sesuatu yang paling kuat menggenggam kita menjadi terpedaya olehnya, sehingga nafsu serakah, amarah, gelisah, mewabah di dalam setiap tarikan nafas, menyusahkan untuk mendaki menuju kesucian. Padahal, dalam kesucian itu penyibaan (kasyf) ada.
Proses keilmuan dalam upaya menemukan kesejatian menuju muthmainah itu masih mengalami kekurangan. Keilmuan selama ini masih parsial. Pada sekelompok memaknai secara positivistik, materialistik. Kelompok-kelompok lain ada yang menekankan pada unsur idea yang cenderung metafisis. Pemahaman yang tidak holistik seperti itu yang menyebabkan jalan menuju kasyf terkendala.
Filsafat ilmu yang sekarang berkembang, dapat dikelompokkan kedalam tiga aliran, yaitu rasionalisme, empirisisme, dan metafisis. Ketiga-tiganya ini sayangnya tidak dipahami secara bersama-sama dan holistik, tetapi hanya dipahami secara parsial. Misalnya, paham rasionalisme berhenti pada metafisis, di sisi laim ada yang hanya terhenti pada rasionalisme dan empirisisme, mengabaikan metafisis. Pola pandang seperti ini memunculkan dikotomi Islam-Barat, Revivalis-Modernis, dan lain-lain.
Menurut saya ketiganya perlu digabung, sehingga kebenaran dapat dipahami secara utuh. Kita dapat melihat kebenaran berdasar rasio, sekaligus empiri, sekaligus suara Tuhan yang metafisis.
Penggabungan tiga aliran keilmuan ini yang kami coba kembangkan di Pondok Pangelmon. Hasilnya sudah mulai nyata. Sebagian keberhasilan itu kami beritakan dalam tulisan tentang "Dua Anakku Spiritualis". Wallahu 'alam bishshowab. Laa haula wa laa quwwata illa billahilaliyil adzim.

Minggu, 18 Januari 2009

Dua Anakku Spiritualis

Saat ini (januari 2009) aku dikaruniai 3 anak. Argawi kandito (Lk, 14), Netya Dzihni Kinanggit (Pr, 9), Qolbi Yustisia Pinawang (Pr, 7 bln). Dari ketiga anak tersebut, dua anakku yang pertama ternyata mempunyai kemampuan spiritualitas, yang menurut saya, cukup tinggi. Beberapa kemampuan dimiliki oleh mereka berdua, yang ini sepertinya merupakan hal langka. Kemampuan itu antara lain: Mereka dapat secara langsung berkomunikasi dengan Tuhan maupun dengan Nabi (conversation with God and Prophet). Untuk hal ini, Toto, panggilan akrab Argawi Kandito, telah menuliskannya di buku pertama yang diberi judul "Berjumpa 26 Nabi: Pengalaman Spiritual Seorang Bocah" diterbitkan oleh Pustaka Pesantren, LKiS Yogjakarta. Berkomunikasi dengan binatang, tumbuhan, benda-benda lainnya juga dapat dilakukan.
Mereka juga memiliki kemampuan penginderaan jarak jauh, mendeteksi kesehatan, mencarikan obat untuk penyakit, serat dapat melakukan flash back atas kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Kemampuan ini sudah diabdikan untuk masyarakat yang memerlukan bantuan mereka.
Toto juga mampu mengindera jin, dan beberapa alam gaib lain. Pengalaman ini telah dibukukan ke dalam buku keduanya, yang sebentar lagi terbit, dengan judul (rencana) "Realitas Gaib", yang juga diterbitkan oleh Pustaka Pesantren-LKiS Yogjakarta.
Kinanggit juga sudah bisa melakukan, hanya saja mengingat usianya yang masih sangat muda, belum saya ijinkan untuk megakses jin, yang wajah dan wataknya, banyak yang mengerikan.
Publikasi ini, tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada khalayak, bahwa ada kebenaran lain yang dapat dicapai melalui metode keilmuan yang lain dari pada yang bersifat positifistik, yang selama ini dipelajari.
Wallohu'alam bishshowab.

Sabtu, 13 Desember 2008

AYAT-AYAT EKONOMI

  1. An Nisaa’ (4);29 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.
  2. Al Faathir (35);29 Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi.
  3. At Takaatsur (102);1 Bermegah-megahan telah melalikan kamu. (Maksudnya: bermegah-megahan dalam soal banyak anak, harta, pengikut, kemuliaan dan seumpamanya telah melalikan kamu dari ketaatan).
  4. An Nisaa’ (4); 32 Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
  5. Al Israa’ (17); 35 Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Al Israa’ (17); 36 Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.
  6. Ar Ruum (30);40 Allah-lah yang mencipakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.
  7. An Nuur (24);38 (mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia kepadaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas.
  8. At Taghaabun (64);15 Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allahlah pahala yang besar At Taghaabun (64);16 Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah, dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. At Taghaabun (64);17 Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasanNya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.
  9. An Nahl (16);71 Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mengapa mereka mengingkari nikmat Allah. (Ini merupakan dasar ukhuwah dan persamaan dalam Islam).
  10. Al Anfaal (8);41 Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rsaul, kerabat Rasul, Anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa (penj: malaikat dan pertolongan) yang Kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.
  11. Al baqarah (2);275 Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
  12. Al Baqarah (2); 280 Dan, jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian tau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahuinya.
  13. At taubah (9);34 Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim yahudi dan Rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
  14. Al Baqarah (2); 254 Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dhalim.
  15. Al Baqarah (2); 267 Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dario hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan kepadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji.
  16. Al Baqarah (2); 271 Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
  17. Al Baqarah (2); 261 Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia keghendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.
  18. Al Baqarah (2); 265 Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
  19. .....masih ada lanjutannya.....(spw)

Rabu, 26 November 2008

Sabtu, 25 Oktober 2008

Economic Ejakulatif

Akhir Minggu ketiga bulan Oktober 2008, rakyat Indonesia yang memerhatikan pergerakan ekonomi makro mungkin tercengang, dan sedikit agak khawatir, terutama para pengusaha yang sedang membutuhkan US dollar untuk pembayaran. Karena, rupiah terdepresiasi menjadi Rp.10.010,00 per 1 USD. Mungkin baru sekitar tiga tahunan terakhir merasakan nilai tukar rupiah (NTR) stabil, tetapi kini fluktuasi lagi. Periode-periode sebelumnya juga sering kali begitu, terutama menjelang keruntuhan rezim Orde Baru (1997-hingga 2005). Gejolak sep0erti ini tidak hanya dialami oleh Indonesia saja. Negara-negara lain juga begitu. Tidak hanya negeri miskin, negeri berkembang, negeri majupun begitu. Lihat saja akhir-akhir ini, Amerika Serikatpun mengalami keterpurukan nilai tukar, bahkan krisis finansial. Dampaknya meluas, tidak hanya menjangkiti negeri itu saja, tetapi negeri-negeri seberang yang berhubungan langsung dengannya ataupun yang tidak langsung, semua merasakan dampak krisis keuangan ini. Uang semakin sulit dipegang oleh rakyat, ekonomipun perlahan mengalami perlambatan.
Kejadian krisis seperti itu akan terus terjadi. Kebanyakan faktor penyebabnya adalah alamiah adanya konjungsi dari globalisme ekonomi, bukan faktor konspirasi. Faktor konspirasi memang sering kali dimainkan oleh kelompok-kelompok tertentu, dengan tujuan mencapai keuntungan kelompoknya, baik itu oleh kelompok dalam arti pemerintahan suatu negara, fund manager, maupun lembaga-lembaga lain. Tetapi krisis finansial dunia saat ini adalah murni faktor alamiah.
Ini adalah sifat dari globalisme ekonomi yang konsekuensinya adalah adanya suatu korban dalam setiap siklus ekonomi. Siklus ekonomi sendiri makin lama makin semakin pendek. Artinya korban pun akan semakin sering dan semakin banyak, juga semakin parah. Kalau dilihat dari ukuran krisis yang pernah ada di Amerika, mungkin ini disepadankan dengan great depression tahun 1929-1930an. Tetapi kalau ukurannya adalah negara-negara berkembang atau negara-negara di luar Amerika, ya tentunya banyak kesepadanannya. Ada krisis Amerika Latin berpusat di Mexico, Asia Tenggara berpusat di Indonesia, Eropa di Itali, Afrika hampir disemua negara. Sebenarnya di Amnerika Serikat sendiri, krisis-krisis keuangan yang scopenya lebih kecil dibanding saat ini juga banyak. Seperti krisis ekonomi yang kemudian memunculkan sepak terjang politik AS di negara-negara lain. Misalnya, penyerangan ke Vietnam, Afganistan, Irak, dan sebagainya. Agresifitas AS itu tidak dapat dilepaskan dari krisis ekonomi yang dialaminya.
Perilaku agresif seperti itu, sebenarnya adalah upaya membuka pasar baru, mendapatkan sumber energi baru, wilayah kaptive baru, dan sebagainya. Tujuannya adalah untuk melancarkan kembali tumpukan-tumpukan ekonomi yang tak tersalurkan, karena kelebihan pasokan. Supaya kelihatannya tidak negatif, maka bungkusnya harus positif, seperti keadilan, keamanan, dan sebagainya.
Kondisi ini akan terus berulang apabila tetap memakai sistem seperti ini. Ini murni bawaan sistem perekonomian yang berlaku di dunia ini, yang saya lebih suka menyebutnya dengan sistem ekonomi yang bersifat ejakulatif. Kata ini sepertinya yang tepat menurut saya, karena ada berbagai alasan, seperti:
1) sistem ekonomi sekarang ini dibangkitkan oleh libido materi yang harus dipenuhi dengan perilaku konsumsi yang terus eskalatif dan harus terus diimbangi dengan produktifitas dengan perilaku yang sama. Pada alasan ini, tidak ada istilah istirahat atau bersantai-santai. Karena sifatnya yang bersifat menyegera (nafsu) maka inilah libido.
2) ketahanan ekonomi hanya terjadi ketika libido konsumsi dan libido produksi seimbang. Ketika kedua libido ini seimbang, maka hasrat untuk penetrasi pasar akan membesar pula. Ketika telah terjadi penetrasi pasar dengan maksimal, maka segala aktivitas ekonomi dengan sumbangan seluruh sumbernya akan menggambarkan kondisi yang paling maksimal. Kondisi itu berada dalam keadaan yang menyejahterakan, yang membanggakan, serta kondisi yang penuh kenikmatan. Pada saat itu, libido akan semakin meningkat dan semakin tidak ada ruang lagi yang mampu mengimbangi dahsyatnya libido itu. semua energi yang ada akan tercurahkan semua, semua jenis upaya penahanan hasrat bobol, seluruh energi tercurahkan... dan itu yang disebut dengan ejakulasi, economic ejakulatif. Setelah ekonomi mengalami ejakulasi, maka energi ekonomi secara perlahan akan mengalami kelemahan dan gerakannya menjadi turun drastis perlahan, hingga terjadi stagnasi ekonomi. Saat itu seluruh energi menghilang...tidak ada daya lagi untuk membangkitkan gerakan ekonomi selayaknya ketika saat libido. semua menjadi lemas...energi tak segera bangkit...aktivitas tidak ada lagi...ia akan membangkit menjadi libido lagi jika telah terjadei keseimbangan baru dengan energi baru, dan ketika semua variabel mendukungnya. Tidak boleh ada satupun faktor yang tidak mendukung. Satu saja faktor pendukungnya tidak ideal, maka akan terjadi ketidak seimbangan, dan energi yang membangkitkan libido akan terkuras, dan ekonomipun akan lemas. tak bergerak, tak berdaya, dan inilah yang disebut dengan krisis, atau letoy economics.
3) Krisis akan bangkit lagi, libido ekonomi akan meningkat lagi, ketika ada sumber daya baru, pasar baru, semangat baru. Ini dapat dilakukan dengan jangka waktu yang pendek atau jangka waktu yang panjang. Jika yang dijunjung tinggi adalah bangkitnya ekonomi menuju keseimbangan secara alamiah, maka pemerintah tdak perlu melakukan upaya-upaya konspiratif. Biarkanlah terjadi pemulihan secara apa adanya. Kalau memilih seperti ini, maka berarti mengikut aliran klasik. Namun, bila yang diinginkannya adalah pemulihan jangka cepat, maka perlu dilakukan upaya konspiratif untuk membangkitkan libido, dengan cara menggunakan suplemen, yang ini memerlukan peran pemerintah untuk intervensi secara politik, peningkatan agresifitas, dan upaya-upaya lain, yang tinjauannya tentu kedirian, bukan sosial lagi. Ingat....Suplemen adalah untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Tidak peduli engkau kuat...yang penting aku kuat...itulah semboyan ekonomi yang didrive oleh suplemen. Tentu saja, suplemen yang digunakan harus teruji, sahih, quick respon, agar segera dapat membuka pasar dan penetrasi ke dalam pasar dapat dimulai lagi.

ditulis oleh:
Kang Pawie

group

  • groups.google.com/group/pangelmon-spiritualitas
  • pangelmon-spiritualitas@googlegroups.com

Bagaimana pendapat anda tentang tulisan ini

Salam Kenal

kunjungi pula blog http://spiritual-pandrik.blogspot.com/