Didirikan oleh Supawi Pawenang. Ia adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Pasca Sarjana Universitas Islam Batik Surakarta, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.Menekuni Filsafat Ekonomi.; Acc. Bank Mandiri Surakarta No.138-00-0689319-7 a.n. Supawi Pawenang; Acc. BPD Jateng Cab. Surakarta No.2-002-11942-5 a.n. Supawi Pawenang
Kontak Person
BANK
Acc. Bank Mandiri Surakarta No.138-00-0689319-7 a.n. Supawi Pawenang;
Acc. BPD Jateng Cab. Surakarta No.2-002-11942-5 a.n. Supawi Pawenang;
Kamis, 17 September 2009
Teori Laba
Perusahaan umumnya mempunyai banyak tujuan. Tujuan-tujuan itu dapat digolongkan sebagai tujuan antara dan tujuan akhir. Tujuan antara dapat saja berupa: perluasan pasar, diversifikasi produk, perkuatan jaringan, penguatan eksistensi, pengenalan produk, dan sebagainya. Namun, tujuan-tujuan itu akan bermuara pada tujuan akhir, yaitu laba.
Laba yang diinginkan oleh perusahaan mempunyai idealitas, bahwa laba harus besar atau banyak dan diperoleh dalam jangka waktu yang selama-lamanya. Ini wajar, karena perusahaan umumnya didirikan di atas prinsip kontinyuitas atau going concern, yaitu prinsip yang mengatakan bahwa perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang selama mungkin. Tidak ada batasan waktu tertentu yang disepakati untuk menakhiri perusahaan. Oleh karena itu, setiap manajer perusahaan berupaya untuk mencapai tujuan akhir itu secara berkesinambungan.
Hambatan Laba
Perusahaan memang berorientasi laba secara ideal, namun dalam realitasnya, idealitas itu terkendala oleh keinginan nasabah. Nasabah pada umumnya menginginkan memperoleh produk yang bermutu, memberikan banyak manfaat, tetapi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produk tersebut minimal. Perilaku konsumen ini bertolak belakang dengan keinginan perusahaan yang mengininkan harga jual tinggi dan lakunya banyak. Guna mengadapi realitas semacam itu, maka perusahaan perlu.....selanjutnya baca...
Selasa, 26 Mei 2009
Apakah Dunia Panggung Sandiwara?
Masih ingat lagunya Ahmad Albar "Panggung Sandiwara?". sepenggal kalimat dalam lagu itu "...Dunia ini panggung sandiwara...ceritannya...".
Siang tadi di saya diskusi tentang itu dengan kawan-kawan di FAI-UMS. Dari diskusi itu muncul berbagai pendapat yang saya kira memperkaya sudut pandang kita. Karena, kawan-kawan memang mengambil posisi pada sudut pandang para pemikir-pemikir yang lalu. Terutama dalam menjawab pertanyaan apakah kita manusia ini memang berperan dalam panggung sandiwara? Kita sedang berperan sebagai dosen, tentara, wartawan, tukang becak, presiden, buruh, dan sebagainya? Lontaranpertanyaan itu mendapat jawaban yang beragam. Ada yang berpendapat bahwa "apapun peran kita, perlu dihayati dengan baik. Karena dengan menghayati dan menjalankan peran dengan baik itu sutradara ataupun produser akan menghargai kita. Penonton ataupun kawan main yang lain juga akan mengapresiasi. Permainan peran kita yang kita jalani dengan baik inilah yang akan membawa kita dalam ketenaran, kemakmuran, kebanggaan, dan sebagainya. Itulah manifestasi hidup. Ketika kita suksen menjalankan suatu peran, kita mungkin, atau bahkan pasti, akan diperankan lain dengan peran yang lebih baik da lebih menantang. Kalau yang semula hanya figuran, mungkin akan mejadi pemain utama. Kalau kita tidak segera mendapatkan tawaran, kita dapat dengan inisiatif sendiri melamar pera yang menantang itu kepada penyelenggaranya. Dalam kehidupan itu adalah Tuhan. Tentu saja, sang pengambil keputusan penentu peran akan mempertimbangkan kesuksesan peran sebelumnya yang pernah kita mainkan. Kalau semula dalam berperan kita hanya menyelesaikan dengan standar minimal, maka tentu peran yang akan lebih menantang tidak akan diberikan kepada kita"...ha..ha..ha...tawa kawanku itu mengakiri jawabannya.
Tetapi bang...sahutku.."kalau dunia ini panggung sandiwara..tentunya kita memang mendapat peran yang pasti...Kalau kita dimainkan dalam peran orang yang baik-baik saja..tidak masalah bang..karena memang kitab sucipun menghendaki orang agar menjadi orang baik..Tetapi kalau kita diperankan sebagai peran jahat bagaimana..? imbalannya apakah surga? Kalau peran itu harus kita jalani dengan sebaik-baiknya, maka kejahatan yang kita lakukan harus betul-betul jahat. Semakin jahat kita akan semakin menunjukan ketaqwaan dong...? Kalau memang seperti itu, berarti neraka tidak ada...? Lha..kalau memang dunia ini panggung sandiwara.dan kita diperankan jahat...waduh...sial sekali kita...? terus dimana letak Maha Rahman dan Maha Rahim Tuhan..?"
"..ya...aliran Jabariah pandangannya memang begitu...bahwa semua ini adalah manifestasi Tuhan. Kita hanya "wayang" yang digerakkan. Apapun yang kita jalani adalah kehendak Tuhan. Ini berbeda dengan pandangan Mu'tazilah...yang mengatakan bahwa Tuhan membekali kita akal. Akal ini yang digunakan oleh manusia untuk menentukan perilakunya di dunia. Bagi orang yang berakal tentu akan memilih yang terbaik, jalan baik yang ditentukan Tuhan. Kalau pilihannya bukan jalan yang baik, itu bukan akal yang mendominasi, tetapi nafsu. Bagi Mu'tazilah, baik orang yang telah bersinggungan dengan wahyu ataupun belum, semuanya dapat menentukan baik dan buruknya perbuatan. Jawab kawanku satunya. Ia melanjutkan...lain halnya dengan sy'ariah....Perbuatan baik dan buruk itu dikabarkan oleh wahyu..melalui para rasul..melalui itab suci. Sebelum ada wahyu itu..kita berada dalam ruang yang bias yang belum bisa menntukan baik dan buruknya perilaku. peran akal hanya akan mulai aktif setelah ada pewahyuan. Satu kawanku menyahut pendek..."Kalau orang tidak pernah bersentuhan dengan pewahyuan berarti bebas hukum...?"...Yang tadi kembali menjawab.."mestinya tidak ada yang lepas dri wahyu..karena di dalam kitab suci dijelaskan bahwa Tuhan telah menunjuk utusannya untuk menyampaikan ajaran pada semua insan."
"Tuhan memang telah mengilhami manusia perbuatan jahat dan perbuatan baik lengkap dengan segala informasinya tentang balasannya. Manusia diberikan kebebasan untuk memilih. Kalau mau surga, ya pilih yang baik. Kalau mau neraka, ya pilih yang buruk. Itu pilihan bebas yang rasional. Manusia itu diciptakan sebaik-baiknya ciptaan, tetapi kalau tidak mengguakan akalnya untuk memilih apa yang diperintakan Tuhan, maka ia akan terjerembab masuk ke dalam lembah asfala safilin. Maka, manusia itu perlu berlomba-loba dalam kebaikan. Ibarat kita berjalan, kita ini mendapat daya tarikan dari dua sisi. Sisi kiri ini tarikan setan yang akan menjatuhkan dalam kesengsaraan, sisi negatif, di sebelah kanan kita ditarik malaikat yang akan menjatuhkan ke dalam surga. Akal kita membantu tarikan malaikat, tetapi nafsu kita membantu tarikan setan. Kita dikatakan berhasil kalau tarikan kebaikan ini yang menang. Jadi, sejatinya..kita hidup ini sudah berada dalam perjuangan untuk memenangkan. Shiroth al mustaqim itu ya yang kita jalani dalam hidup ini... " sergah kawanku yang semula diam.
Rabu, 20 Mei 2009
Kaderisasi Generasi Laduni
Materi, merupakan sesuatu yang paling kuat menggenggam kita menjadi terpedaya olehnya, sehingga nafsu serakah, amarah, gelisah, mewabah di dalam setiap tarikan nafas, menyusahkan untuk mendaki menuju kesucian. Padahal, dalam kesucian itu penyibaan (kasyf) ada.
Proses keilmuan dalam upaya menemukan kesejatian menuju muthmainah itu masih mengalami kekurangan. Keilmuan selama ini masih parsial. Pada sekelompok memaknai secara positivistik, materialistik. Kelompok-kelompok lain ada yang menekankan pada unsur idea yang cenderung metafisis. Pemahaman yang tidak holistik seperti itu yang menyebabkan jalan menuju kasyf terkendala.
Filsafat ilmu yang sekarang berkembang, dapat dikelompokkan kedalam tiga aliran, yaitu rasionalisme, empirisisme, dan metafisis. Ketiga-tiganya ini sayangnya tidak dipahami secara bersama-sama dan holistik, tetapi hanya dipahami secara parsial. Misalnya, paham rasionalisme berhenti pada metafisis, di sisi laim ada yang hanya terhenti pada rasionalisme dan empirisisme, mengabaikan metafisis. Pola pandang seperti ini memunculkan dikotomi Islam-Barat, Revivalis-Modernis, dan lain-lain.
Menurut saya ketiganya perlu digabung, sehingga kebenaran dapat dipahami secara utuh. Kita dapat melihat kebenaran berdasar rasio, sekaligus empiri, sekaligus suara Tuhan yang metafisis.
Penggabungan tiga aliran keilmuan ini yang kami coba kembangkan di Pondok Pangelmon. Hasilnya sudah mulai nyata. Sebagian keberhasilan itu kami beritakan dalam tulisan tentang "Dua Anakku Spiritualis". Wallahu 'alam bishshowab. Laa haula wa laa quwwata illa billahilaliyil adzim.
Minggu, 18 Januari 2009
Dua Anakku Spiritualis
Mereka juga memiliki kemampuan penginderaan jarak jauh, mendeteksi kesehatan, mencarikan obat untuk penyakit, serat dapat melakukan flash back atas kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Kemampuan ini sudah diabdikan untuk masyarakat yang memerlukan bantuan mereka.
Toto juga mampu mengindera jin, dan beberapa alam gaib lain. Pengalaman ini telah dibukukan ke dalam buku keduanya, yang sebentar lagi terbit, dengan judul (rencana) "Realitas Gaib", yang juga diterbitkan oleh Pustaka Pesantren-LKiS Yogjakarta.
Kinanggit juga sudah bisa melakukan, hanya saja mengingat usianya yang masih sangat muda, belum saya ijinkan untuk megakses jin, yang wajah dan wataknya, banyak yang mengerikan.
Publikasi ini, tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada khalayak, bahwa ada kebenaran lain yang dapat dicapai melalui metode keilmuan yang lain dari pada yang bersifat positifistik, yang selama ini dipelajari.
Wallohu'alam bishshowab.
Sabtu, 13 Desember 2008
AYAT-AYAT EKONOMI
|
Rabu, 26 November 2008
Sabtu, 25 Oktober 2008
Economic Ejakulatif
ditulis oleh:
Kang Pawie
group
- groups.google.com/group/pangelmon-spiritualitas
- pangelmon-spiritualitas@googlegroups.com